Mayoritas peserta peringatan Kartini tak lagi tahu dolanan kampung
Seperti apa jika Aleg wanita , isteri Dubes, ketua PKK serta tokoh masyarakat dolanan tradisional bersama warga masyarakat di sepanjang jalan Tunjungan? Padahal, mereka ini berkebaya, bersanggul dan bermake-up lengkap layaknya pergi ke pesta. Peringatan Kartini-anlah yagn menjadikan mereka rela ndeprok dan nglempoh di aspal jalan propinsi itu. Bagaimana ulah mereka?

RADJAWARTA > Seru dan gayeng. Kesan itulah yang tampak pada perayaan kartini yang digelar komunitas Rek ayo rek Mlaku-mlaku nang Tunjungan (RMT) dan Bonek, kemarin pagi. Meski acara yang dipusatkan di CFD Tunjungan itu dilangasugnkan pk 06.00 WIB, namun antusiame warga Surabaya tak berkurang. Buktinya, mereka berduyun-duyun mengikuti acara mengangkat dolanan tradisional itu.
Anggota Legislatif (Aleg) DPRD kota, diantaranya Ine Listiyani, Ivy Juana, Ninuk Irmawati dan Herlina Harsono tampak menikmati permainan klompen berjamaah. Sayangnya, tim yang dipimpin Dyah Katarina, ketua PKK kota Surabaya, harus menyerah kalah dengan tim dari bunda PAUD.
Menariknya, meskipun para Aleg wanita itu terbiasa mengambil keputusan secara kolektif kolegial di DPRD, tidak demikian dengan permainan tradisional. Akibatnya, tim yang beranggotakan 5 orang itu harus terseok-seok dan bahkan nyosop akibat ketidak kompakan melangkahkan kaki. ‘’Hadoooooh….bundas maneh iki dengkulku reeek,’’ teriak Dyah Katarina sambil terhuyung jatuh. Kendati demikian, isteri Bambang DH itu tidak mengeluh. Bahkan, begitu tahu tim peserta dari Aleg dan isteri pejabat itu nyungsep, pengunjung dibuat tertawa. Demikian juga dengan para Aleg yagn tak henti-hentinya menertawakan langkahnya itu.
Bunda PAUD Penuntut Dolanan
Permainan semakin gayeng, saat peserta menjajal mainan engkle. Firda Djoko Susilo yagn sengaja datang dari Jakarta ikut meramaikan acara dibuat terbengong-bengon saat bermain. Isteri Dubes Swiss itu harus menyerah pada lawannya yagn masih anak-anak. ‘’Lho, aku wis lali je. Mainnya gimana toh, ini,’’ ucapnya sambil menganyunkan langkahnya ke kotak engkle.
Untungnya, ada beberapa bunda PAUD yang mendampinginya. Guru sekolah PAUD dari Balongsari telaten memberikan panduan agar Firda terus melangkah dan mengikuti acara engkle hingga rampung. Hasilnya, wanita yang mondar mandir Swiss-Jakarta-Surabaya itu dibuat telak terhadap musuhnya yang masih berstatus sekolah dasar.
Permainan semakin gayeng, saat peserta mulai menjajal dakon. Lisa Nurjazilah, pasien face off tampak kebingungan cara memakinkan dolanan yang pernah akrab dimainkan semasa kanak-kanaknya.
Meskipun sedikit canggung, wanita yang telah tinggal di RS Dr Soetmo selama 6 tahun itu akhirnya rileks juga. Dari jemari mulusnya, biji sawo yang ada dengan lincah disebar ke dalam masing-masing lubang miliknya hingga bisa mengumpulkan banyak.
Permainan yang membutuhkan kecermatan dan tenik analisa matematika itu berhasil dirampungkan dengan kilat. ‘’Hahaha….yesssss, aku bisa……,’’ ucapnya setelah tahu, musuh diseberangnya kehilangan mayoritas biji sawo yang mereka mainkan. Lisapun tersenyum riang menyambut kemenangannya.
Ndeprok di Jalan Raya
Permainan tempo doloe yang diajarkan pada para wanita itu gayeng diikuti hampir semua peserta. Tanpa ragu-ragu, peserta yagn mengenakan busana kebaya dan kain panjang duduk berjajar berhadap-hadapan tanpa alas apapun.
Tak ada yang mengeluh kotor ataupun risih. Padahal, permainan kampung itu digelar di atas aspal jalan Tunjungan. ‘’Ternyata asyik juga ya, bisa main di tempat terbuka seperti ini,’’ ucap Ratni Haryo, isteri Haryo Sulistyarso pakar tata kota dan transporatasi ITS yang tak henti-hentinya menawan tawa melihat kekonyolan peserta dolanan.
Sebelum dolanan tradisional dimulai, seluruh peserta diajak melakukan senam bersama dibawah komando tim Tunjungan Elektronic Centre (TEC). Menariknya, senam massal itu tidak hanya senam aerobik belaka, melainkan juga dance line yang kini mulai jadi trend.
Setelah itu, MC yang dipandu duet Agung Wahono dan Ellen Pratiwi dari Sindo Radio memimpin upacara hari Kartini. Lisa dipercaya memimpin lagu Kartini dilanjutkan kemudian tembang fenomenal Rek Ayo Rek dan Gebyar-Gebyar ciptaan alm Gombloh dengan iringan RMT band.
Diluar dugaan, para wanita yagn hadir menyambut antusias hadirnya lagu-lagu tersebut. Pada saat lagu nyanyian Mus Mulyadi dikumandangkan, seluruh peserta malah rame-rame berjoget. Rek ayo Rek dinyanyikan hingga 3 kali atas permintaan seluruh yang hadir.
Pangung berukuran 3×5 makin bergetar saat Cak Bokir, ketua Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) melantukan lagu Jancuk yagn dijadikan lagu wajib komunitas RMT. Pada saat refein lagu dikumandangkan berbunyi cuk jancuk jancuk jancuk, seluruh peserta menjawab ‘’jancuk dewe…’’ tanpa dikomando. Akhirnya, kalimat jancuk membahana di sepanjang jalan Tunjungan.
Selain dihadiri tokoh masyarakat seperti Saleh Ismail Mukadar, anggota DPRD propinsi Jatim, Camat Genteng, Unilever, Ikatan Mahasiswa Pacitan di Surabaya (IMPAC), Granat Surabaya pimpinan Aries Soeripan Putri, beberapa pengusaha dan wisatawan asing peserta Apec.
Siti Nasyi’ah, ketua panitia penyelenggara mengatakan, acara Kartinian semacam ini akan dijadikan agenda tahunan. Sebelumnya, Kartinian serupa digelar di GOR Brwijaya dengan tema futsall kebaya. ‘’Dolanan tradisional sengaja kita angkat kali ini, untuk mengimbangi derasnya laju permainan modern. Biar kita tidak dinilai pemutus pemutus tradisi oleh sejarah,’’ kata penulis buku biografi yang akrab disapa Ita.
Dipilihnya jalan Tunjungan, bukan tanpa sebab. Sebagai anggota komunitas RMT, dedengkot Bonita mengakan bermisi menjadikan Tunjungan sebagai ikon Surabaya. ‘’Kalau Malioboro punyanya Yogyakarta, Braga Stone terkenal di Bandung lha masak Surobaya dikenal Dolly,’’ ucapnya setengah berkelakar.
Untuk itulah, sebagai arek Suroboyo Ita, bersama pendiri RMT seperti Ananto Sidohutomo, Memed, Agus Romli, Bayu Kanugrahan dll bertekad mengembalikan kejayaan jalan Tunjungan sebagaimana di era perjuangan.
‘’Kalau dulu arek-arek Suroboyo berhasil menyobek bendera merah putih biru di hotel Orange, sekarang saatnya kita berbuat agar masyarakat Surabaya punya tempat representatif untuk mengapresiasikan segalanya. Ya seni, budaya atau bahkan kulinernya,’’ tambah Memed, arsitek ternama jebolan ITS yang juga salah satu motor RMT itu pada wartawan.
Sebagai bentuk pertanggung-jawabannya Njejeno Tunjungan dadi Ikon Suroboyo, setiap minggu pagi, Memed bersama teman-temannya amen di jalan Tunjungan. Upaya untuk meramaikan Tunjungan itu tidak sebatas pada hiburan musik belaka. Tetapi kelak ada tontonan ludruk garingan, parikan atau kesenian tradisional Suroboyoan lainnya. Tidak menolak kemungkinan, kelak akan ada acara Srimulat on the stret yagn sudah dalam antrean. +++

Loading ...