Tag Archive | "warga"

Walikota Mojokerto Sidak Kerja Bhakti Warga

Tags: , , , , ,

Walikota Mojokerto Sidak Kerja Bhakti Warga

Posted on 20 Mei 2013 by admin

RADJAWARTA > Minggu pagi kemarin (19/5), Walikota Abdul Gani bersama Wakil Walikota Mas’ud Yunus, Sekda Suyitno, Camat, Lurah, Kepala SKPD dan Badan Pemberdayaan Masyarakat blusukan ke gang-gang kecil di Kota Mojokerto.

Dalam kesempatan ini, Walikota memantau jalannya kerja bhakti yang dilakukan sebagian besar warga Kota Mojokerto. Blusukan ini juga dalam rangka rangkaian pencanangan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke-X yang dilangsungkan Jumat lalu di Lapangan Surodinawan.

Berangkat dari rumah pribadi Walikota di Jalan Benteng Pancasila, dengan mengendarai sepeda motor, rombongan bersama-sama keliling ke gang-gang kecil tanpa pengawalan patwal. Walikota nampak senang menyapa warganya dari dekat.

Begitu juga warga terlihat kaget melihat kehadiran orang nomor satu di Kota Mojokerto. Bahkan Walikota dan rombongan menyempatkan turun dan berbincang dengan warganya. “Terima kasih Pak Wali atas kunjungannya,” ujar Gatot Supriyanto, Ketua RT 4 RW 1 Kelurahan Kranggan.

Dengan kunjungan petinggi pemkot ini, warga yang melakukan kerja bhakti tampak lebih giat. “Ini menunjukkan perhatian pemimpin yang merakyat dan mau turun langsung ke bawah melihat warganya,” lanjutnya.

Siti Nurjanah Yuniati, Kepala Bidang Sosial Budaya Masyarakat di Badan Pemberdayaan Masyarakat Kota Mojokerto menerangkan bahwa peringatan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat tahun ini diperingati agar dapat menggelorakan kembali semangat kegotongroyongan dan keswadayaan. “Untuk lebih memberikan makna dukungan keberhasilan serta membentuk sosial budaya keluarga dan masyarakat yang kondusif dalam pembangunan,” terangnya.

Selain di lingkungan Kranggan, Walikota beserta rombongan juga sempat berbincang lama dengan warga Sinoman. Di sini, terlihat warga bergotong royong membersihkan selokan yang dipenuhi sampah plastik dan dedaunan. “Semua warga harus sadar pentingnya kebersihan lingkungan. Jadi kalau lingkungan kita bersih akan terbebas dari banjir, dan kita semua juga akan selalu sehat,” kata Walikota kepada warga.

Dalam blusukan itu, Walikota dalam setiap kesempatan bertemu dengan warganya juga mengingatkan pentingnya semangat kebersamaan. “Kerja bhakti merupakan tradisi budaya bangsa. Jadi masyarakat harus bahu membahu meningkatkan rasa memiliki dan rasa tanggung jawab terhadap nilai-nilai pembangunan,” papar Walikota. (Rt) +++

Puaskah anda dengan Kinerja Gubernur Jatim, Soekarwo?

Lihat Hasil Polling

Loading ... Loading ...

Comments (0)

SANYO DIGITAL CAMERA

Tags: , , , , , , ,

Demi Anak, Warga Krukah Meringkuk di Hotel Prodeo

Posted on 13 Mei 2013 by admin

RADJAWARTA > Agus Sapai (53), warga Jalan Krukah Selatan Surabaya, terpaksa harus berurusan dengan penegak hukum. Ini karena dia tertangkap basah oleh tukang kebun pemilik rumah. Akibat dari ulah nekadnya Agus meringkuk di Polsek Sukolilo, Surabaya.

Niat jahat Agus berawal dari desakan anaknya yang meminta dibelikan sepeda motor. Karena tidak memiliki uang untuk memenuhi keinginan anaknya. Agus yang berprofesi sebagai sopir pribadi itu berusaha mencuri mobil di kawasan Jalan Pakis, Surabaya.

Kapolsek Sukolilo, Kompol Putu Dewa Eka mengatakan, karena terus didesak sang anak untuk dibelikan sepeda motor, tersangka akhirnya berbuat nekad. Tersangka kemudian nekad mencuri sepeda motor Honda Supra X nopol L 5818 KG milik Sutrisno (33), warga Jalan Pakis III Surabaya.

“Aksi pencurian itu terjadi Sabtu (11/5) pukul 15.30 Wib di Perumahan Pakuwon City Surabaya. Ditengah kebingungannya itu, tersangka kemudian berjalan-jalan di daerah Perumahan Pakuwon City tersebut. Tersangka akhirnya melihat sepeda motor milik korban diparkir di taman, “ ujar Dewa.

Tertarik dengan sepeda motor tersebut, lanjut Dewa, tersangka kemudian mendekat. Keinginan tersangka semakin kuat begitu mengetahui jika kunci kontak sepeda motor tersebut menempel.

Merasa keadaan sepi, tersangka kemudian memasuki area rumah dan mulai mengambil sepeda motor tersebut. Oleh tersangka, mesin sengaja tidak dinyalakan. Namun sayang, aksi pencurian itu diketahui tukang kebun di rumah itu,“ ungkap Dewa.

Si tukang kebun, sambung Dewa tidak langsung menegur atau menangkap tersangka seketika itu juga dengan alasan ingin memastikan tindakan yang diperbuat tersangka itu. Ia hanya mengikuti tersangka dari belakang.

“Begitu sampai di perempatan Pakuwon, si tukang kebun yang melihat ada Polantas di sekitar situ kemudian meminta tolong untuk menangkap tersangka. Tentu saja tersangka kaget melihat kehadiran polisi, “ ulas Dewa.

Tersangka makin tidak bisa berkutik begitu polisi menanyakan surat-surat kelengkapan sepeda motor tersebut. Karena tidak bisa menunjukkannya, tersangka kemudian dibawa ke Polsek Sukolilo dan diserahkan ke petugas yang berjaga kala itu guna menjalani proses hukum lebih lanjut. +++

Caption Poto: tersangka Agus Sapai yang bingung didesak anaknya yang minta dibelikan sepeda motor sebagai sarana transportasinya bekerja. Tersangka kini mendekam di tahanan Mapolsek Sukolilo.

Puaskah anda dengan Kinerja Gubernur Jatim, Soekarwo?

Lihat Hasil Polling

Loading ... Loading ...

py

Comments (0)

Tags: , , , , , ,

Pemkot Siapkan Sentra PKL Untuk Warga Simokerto

Posted on 10 Mei 2013 by admin

RADJAWARTA > Ibu-ibu muda di Kecamatan Simokerto, dihimbau untuk mengikuti program pelatihan-pelatihan Usaha Kecil Menengah (UKM) di wilayahnya. Ini karena program pelatihan UKM tersebut, akan sangat penting sebagai upaya untuk mengangkat perekonomian keluarga di Kecamatan Simokerto.

Imbauan itu disampaikan Walikota Surabaya, Ir Tri Rismaharini MT saat membuka UKM Expo di halaman Rumah Susun (Rusun) Sumbo, Kelurahan Simolawang Kecamatan Simokerto, Jumat (10/5) sore.
“Ibu-ibu yang masih muda bisa minta pelatihan ke RW nya. Nanti saya akan ikut memantau,” tegas Walikota Risma dalam sambutannya.

Menurut walikota, program road show UKM Expo di kecamatan-kecamatan ini sebagai upaya untuk membuat ibu-ibu tertarik berusaha. Apalagi, pelatihan UKM ini menjadi kesempatan bagi warga untuk memperbaiki perekonomian keluarga. “Kegiatan ini diharapkan bisa mendorong akses warga untuk usaha. Jika ibu-ibu tidak kenal lelah, Insya Allah jalan dibukakan,” imbuh walikota Risma.

Walikota perempuan pertama di Kota Surabaya ini juga berjanji akan membangun sentra PKL di kecamatan Simokerto. Sehingga, ibu-ibu yang sudah mengikuti pelatihan UKM, akan bisa memasarkan produknya.

“Nanti kalau ibu-ibu sudah siap, kita bisa buatkan sentra PKL di halaman Rusun ini untuk usaha. Ibu-ibu bisa memasarkan produk-produknya,” sambung walikota.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Surabaya, Agus Eko Supiadi menambahkan, UKM Expo di Kecamatan Simokerto ini digelar selama tiga hari dari tanggal 10 Mei hingga 12 Mei. “Ada 41 stan dari berbagai UKM di wilayah Kecamatan Simokerto yang ikut berpartisipasi dalam UKM Expo kali ini,” tegas Agus Eko Supiadi.

Beberapa stan yang tampil dalam UKM Expo kali ini diantaranya kerajinan tangan seperti jilbab dan aksesoris, sepatu, deterjen, olahan laut. Ada juga Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) “Maju Mapan” yang memasarkan lele segar. Serta Bulog yang menjual beras, gula dan minyak goreng murah.

Menurut Agus Eko, UKM Expo di Kecamatan Simokerto ini yang kelima kalinya digelar Pemkot Surabaya di tahun 2013 ini. Akhir April lalu, UKM Expo digelar di Kecamatan Gunung Anyar. +++

Puaskah anda dengan Kinerja Gubernur Jatim, Soekarwo?

Lihat Hasil Polling

Loading ... Loading ...

Comments (0)

Warga Masyarakat Minati Dolanan Tradisional Berkebaya

Tags: , , , , ,

Warga Masyarakat Minati Dolanan Tradisional Berkebaya

Posted on 21 April 2013 by admin

Mayoritas peserta peringatan Kartini tak lagi tahu dolanan kampung

Seperti apa jika Aleg wanita , isteri Dubes, ketua PKK serta tokoh masyarakat dolanan tradisional bersama warga masyarakat di sepanjang jalan Tunjungan? Padahal, mereka ini berkebaya, bersanggul dan bermake-up lengkap layaknya pergi ke pesta. Peringatan Kartini-anlah yagn menjadikan mereka rela ndeprok dan nglempoh di aspal jalan propinsi itu. Bagaimana ulah mereka? 

RADJAWARTA > Seru dan gayeng. Kesan itulah yang tampak pada perayaan kartini yang digelar  komunitas Rek ayo rek Mlaku-mlaku nang Tunjungan (RMT) dan Bonek, kemarin pagi. Meski acara yang dipusatkan di CFD Tunjungan itu dilangasugnkan pk 06.00 WIB, namun antusiame warga Surabaya tak berkurang.  Buktinya, mereka berduyun-duyun mengikuti acara mengangkat dolanan tradisional itu.

Anggota Legislatif (Aleg) DPRD kota, diantaranya Ine Listiyani, Ivy Juana, Ninuk Irmawati dan Herlina Harsono tampak menikmati permainan klompen berjamaah. Sayangnya, tim yang dipimpin Dyah Katarina, ketua PKK kota Surabaya, harus menyerah kalah dengan tim dari bunda PAUD.

Menariknya, meskipun para Aleg wanita itu terbiasa mengambil keputusan secara kolektif kolegial di DPRD, tidak demikian dengan permainan tradisional. Akibatnya, tim yang beranggotakan 5 orang itu harus terseok-seok dan bahkan nyosop akibat ketidak kompakan melangkahkan kaki. ‘’Hadoooooh….bundas maneh iki dengkulku reeek,’’ teriak Dyah Katarina sambil terhuyung jatuh. Kendati demikian, isteri Bambang DH itu tidak mengeluh. Bahkan, begitu tahu tim peserta dari Aleg dan isteri pejabat itu nyungsep, pengunjung dibuat tertawa. Demikian juga dengan para Aleg yagn tak henti-hentinya menertawakan langkahnya itu.

Bunda PAUD Penuntut Dolanan 

Permainan semakin gayeng, saat peserta menjajal mainan engkle. Firda Djoko Susilo yagn sengaja datang dari Jakarta ikut meramaikan acara dibuat terbengong-bengon saat bermain. Isteri Dubes Swiss itu harus menyerah pada lawannya yagn masih anak-anak. ‘’Lho, aku wis lali je. Mainnya gimana toh, ini,’’ ucapnya sambil menganyunkan langkahnya ke kotak engkle.

Untungnya, ada beberapa bunda PAUD yang mendampinginya. Guru sekolah PAUD dari Balongsari telaten memberikan panduan agar Firda terus melangkah dan mengikuti acara engkle hingga rampung. Hasilnya, wanita yang mondar mandir Swiss-Jakarta-Surabaya itu dibuat telak terhadap musuhnya yang masih berstatus sekolah dasar.

Permainan semakin gayeng, saat peserta mulai menjajal dakon. Lisa Nurjazilah, pasien face off tampak kebingungan cara memakinkan dolanan yang pernah akrab dimainkan semasa kanak-kanaknya.

Meskipun sedikit canggung, wanita yang telah tinggal di RS Dr Soetmo selama 6 tahun itu akhirnya rileks juga. Dari jemari mulusnya, biji sawo yang ada dengan lincah disebar ke dalam masing-masing lubang miliknya hingga bisa mengumpulkan banyak.

Permainan yang membutuhkan kecermatan dan tenik analisa matematika itu berhasil dirampungkan dengan kilat. ‘’Hahaha….yesssss, aku bisa……,’’ ucapnya setelah tahu, musuh diseberangnya kehilangan mayoritas biji sawo yang mereka mainkan. Lisapun tersenyum riang menyambut kemenangannya.

Ndeprok di Jalan Raya

Permainan tempo doloe yang diajarkan pada para wanita itu gayeng diikuti hampir semua peserta. Tanpa ragu-ragu, peserta yagn mengenakan busana kebaya dan kain panjang duduk berjajar berhadap-hadapan tanpa alas apapun.

Tak ada yang mengeluh kotor ataupun risih. Padahal, permainan kampung itu digelar di atas aspal jalan Tunjungan. ‘’Ternyata asyik juga ya, bisa main di tempat terbuka seperti ini,’’ ucap Ratni Haryo, isteri Haryo Sulistyarso pakar tata kota dan transporatasi ITS yang tak henti-hentinya menawan tawa melihat kekonyolan peserta dolanan.

Sebelum dolanan tradisional dimulai, seluruh peserta diajak melakukan senam bersama dibawah komando tim Tunjungan Elektronic Centre (TEC).  Menariknya, senam massal itu tidak hanya senam aerobik belaka, melainkan juga dance line yang kini mulai jadi trend.

Setelah itu, MC yang dipandu duet Agung Wahono dan Ellen Pratiwi dari Sindo Radio memimpin upacara hari Kartini. Lisa dipercaya memimpin lagu Kartini dilanjutkan kemudian tembang fenomenal Rek Ayo Rek  dan Gebyar-Gebyar ciptaan alm Gombloh dengan iringan RMT band.

Diluar dugaan, para wanita yagn hadir menyambut antusias hadirnya lagu-lagu tersebut. Pada saat lagu nyanyian Mus Mulyadi dikumandangkan, seluruh peserta malah rame-rame berjoget.  Rek ayo Rek dinyanyikan hingga 3 kali atas permintaan seluruh yang hadir.

Pangung berukuran 3×5 makin bergetar saat Cak Bokir, ketua Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) melantukan lagu Jancuk yagn dijadikan lagu wajib komunitas RMT. Pada saat refein lagu dikumandangkan berbunyi  cuk jancuk jancuk jancuk, seluruh peserta menjawab  ‘’jancuk dewe…’’ tanpa dikomando. Akhirnya, kalimat jancuk membahana di sepanjang jalan Tunjungan.

Selain dihadiri tokoh masyarakat seperti Saleh Ismail Mukadar, anggota DPRD propinsi Jatim, Camat Genteng, Unilever, Ikatan Mahasiswa Pacitan di Surabaya (IMPAC), Granat Surabaya pimpinan Aries Soeripan Putri, beberapa pengusaha dan wisatawan asing peserta Apec.

Siti Nasyi’ah, ketua panitia penyelenggara mengatakan, acara Kartinian semacam ini akan dijadikan agenda tahunan. Sebelumnya, Kartinian serupa digelar di GOR Brwijaya dengan tema futsall kebaya. ‘’Dolanan tradisional sengaja kita angkat kali ini, untuk mengimbangi derasnya laju permainan modern. Biar kita tidak dinilai pemutus pemutus tradisi oleh sejarah,’’ kata penulis buku biografi yang akrab disapa Ita.

Dipilihnya jalan Tunjungan, bukan tanpa sebab. Sebagai anggota komunitas RMT, dedengkot Bonita mengakan bermisi menjadikan Tunjungan sebagai ikon Surabaya. ‘’Kalau Malioboro punyanya Yogyakarta, Braga Stone terkenal di Bandung lha masak Surobaya dikenal Dolly,’’ ucapnya setengah berkelakar.

Untuk itulah, sebagai arek Suroboyo Ita, bersama pendiri RMT seperti Ananto Sidohutomo, Memed, Agus Romli, Bayu Kanugrahan dll bertekad mengembalikan kejayaan jalan Tunjungan sebagaimana di era perjuangan.

‘’Kalau dulu arek-arek Suroboyo berhasil menyobek bendera merah putih biru di hotel Orange, sekarang saatnya kita berbuat agar masyarakat Surabaya punya tempat representatif untuk mengapresiasikan segalanya. Ya seni, budaya atau bahkan kulinernya,’’ tambah Memed, arsitek ternama jebolan ITS yang juga salah satu motor RMT itu pada wartawan.

Sebagai bentuk pertanggung-jawabannya Njejeno Tunjungan dadi Ikon Suroboyo, setiap minggu pagi, Memed bersama teman-temannya amen di jalan Tunjungan. Upaya untuk meramaikan Tunjungan itu tidak sebatas pada hiburan musik belaka. Tetapi kelak ada tontonan ludruk garingan, parikan atau kesenian tradisional Suroboyoan lainnya. Tidak menolak kemungkinan, kelak akan ada acara Srimulat on the stret yagn sudah dalam antrean. +++

Puaskah anda dengan Kinerja Gubernur Jatim, Soekarwo?

Lihat Hasil Polling

Loading ... Loading ...

 

Comments (0)

nu

Tags: , , , , , ,

PBNU > Sudah Saatnya Jatim Dipimpin Warga NU

Posted on 14 April 2013 by admin

RADJAWARTA > Nampaknya para Petinggi NU di Jatim masih berharap Jawa Timur dipimpin oleh warga NU. Harapan itu bukan tanpa alasan. Pasalnya, di Jawa Timur merupakan basis warga NU. Selain alasan terebut di atas, alasan lainnya adalah jika Gubernurnya berasal dari warga maka kepedulian terhadap warga nahdliyin akan lebih maksimal.

Harapan itu disampaikan Slamet Effendi Yusuf Ketua PBNU  disela seminar nasional dengan tema ‘Kebebasan dan HAM dalam koridor Pancasila’ di kantor PCNu Kota Surabaya, Jalan Bubutan, Minggu (14/4/2013).

“Kami tidak melihat siapa sosok atau figur yang mencalonkan sebagai Gubernur Jatim. Tapi cita-cita warga NU menjadi pemimpin tertinggi di daerah harus kita dukung semua,” ujarnya kepada wartawan.

Sebagai warga terbanyak di Jawa Timur maka sudah sewajarnya pimpinan tertinggi (Gubernur) dipegang warga NU. Dan, Pilgub Jatim merupakan momen atau kesempatan warga NU untuk merebut kursi Jatim I.

“Saya pernah mengatakan, orang NU di Jatim harus membikin sejarah. Bahwa ini untuk pertama kalinya warga NU akan menjadi gubernur di Jatim, daerah yang pusatnya NU, tempat kelahiran NU dan inti perjuangan NU ketika fatwa jihad mempertahankan NKRI itu fardu ain,” terangnya.

Dijelaskan Slamet, jika warga NU bisa memimpin Jatim maka peranan pemimpin tersebut akan lebih maksimal memikirkan nasib warga nahdliyin dan memikirkan rakyat Jawa Timur secara keseluruhan.

“Secara organisasi, NU di Jatim tidak bersikap itu no problem, karena NU memang tidak berpolitik. Tapi melalui jalur informal, katakanlah Ketua NU di sini dan sebagainya, harusnya mendorong rakyat khususnya warga nahdliyin menggapai cita-cita terbaik. Jangan sampai netralitas bersifat mengaburkan,” ujarnya.

Oleh karena itu, jika ingin mewujudkan cita-cita NU, maka di Pilgub Jatim 2013 semua unsur harus menyatukan diri, mulai suriyah, tanfidzyah, Ansor, Muslimat, Fatayat, IPNU, IPPNU dan seluruh badan otonomo dan lajnah harus menyatu untuk mencapai cita-cita warga NU menjadi gubernur. “Termasuk tokoh NU, pesantren berbasis NU, harus menyatu dengan semangat ini bisa membuat sejarah,” jelasnya.

Di tempat yang sama, mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi melangkapi pernyataan Slamet Effendi Yusuf menyatakan, di Jawa Timur, warga NU berjumlah sekitar 70 persen lebih. Dan, mereka berharap memiliki gubernur yang berasal dari NU.

“Jadi wakil gubernur itu peranannya tidak cukup untuk dipakai merawat umat. Karena dia tidak punya kepribadian atau tidak punya wewenang untuk mengambil keputusan apapun,” tuturnya.

Ditambahkan Hasyim, 24 juta warga NU dari 29 juta penduduk Jatim memerlukan perawatan dan tidak memerlukan basa-basi. “Nah ini semuanya tidak mungkin, kalau NU tidak mengambil gubernur,” tuturnya. +++

Puaskah anda dengan Kinerja Gubernur Jatim, Soekarwo?

Lihat Hasil Polling

Loading ... Loading ...

dtksby

 

Comments (0)

Peran Aktif Warga Kunci Keberhasilan Cegah DBD

Tags: , , , , , ,

Peran Aktif Warga Kunci Keberhasilan Cegah DBD

Posted on 09 April 2013 by admin

RADJAWARTA > Masih seringnya hujan mengguyur Kota Surabaya, membuat warga Kota Surabaya harus lebih pro aktif untuk memperhatikan lingkungannya. Keberadaan air yang menggenang di sejumlah tempat, harus diwaspadai. Termasuk pengaturan jadwal membersihkan bak kamar mandi

Ini karena Kota Surabaya masih merupakan daerah endemis untuk penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Sejak pertama kali dilaporkan pada tahun 1968, kasus DBD selalu ditemukan setiap tahunnya. Pemkot Surabaya tidak tinggal diam. Beberapa tindakan preventif sudah dilakukan untuk memastikan bahwa jumlah warga Surabaya yang terserang DBD, terus menurun pada setiap bulan.

Pelaksana Tugas Kepalas Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, drg Febria Rachmanita mengatakan, pihaknya telah melakukan sejumlah upaya, diantaranya dengan mengaktifkan keberadaan Puskesmas.  Salah satunya dengan melakukan pemeriksaan dini pada pasien tersangka DBD di Puskesman.

“Kami juga memerintahkan Puskesmas untuk berkoordinasi dengan lintas sektor guna melakukan bulan bakti gerakan 3 M,” ujar Febria.

Selain mengoptimalkan keberadaan Puskesmas, Pemkot Surabaya juga aktif menggerakkan peran serta masyarakat.  Ini karena peran serta masyarakat dinilai masih belum berjalan optimal dalam gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Untuk mengoptimalkan peran serta warga, sudah dibuat surat edaran walikota tentang kewaspadaan dini DBD untuk setiap RT di Kota Surabaya. Pemkot juga sudah mengirimkan surat kepada lurah se-kota Surabaya untuk menggerakkan masyarakat dalam upaya PSN. Masyarakat juga diharuskan meningkatkan surveilans penemuan DBD secara pro aktif berkoordinasi dengan rumah sakit di Surabaya untuk segera melaporkan setiap kasus DBD kurang dari 24 jam.

“Kami juga melakukan kegiatan penyelidikan epidemiologi dan fogging fokus pada setiap kasus DBD yang dilaporkan. Juga melakukan Penyuluhan di masyarakat dan Posyandu melalui media massa dan radio. Serta mengaktifkan siswa pemantu jentik (Wamantik), guru pemantau jentik (Rumantik) serta menggiatkan Ibu pemantau jentik (Bumantik),” jelas Febria. +++

Puaskah anda dengan Kinerja Gubernur Jatim, Soekarwo?

Lihat Hasil Polling

Loading ... Loading ...

 

Comments (0)

Pemkot Jamin Warganya Tetap Dapat Jamkesmas

Tags: , , , , ,

Pemkot Jamin Warganya Tetap Dapat Jamkesmas

Posted on 02 Maret 2013 by admin

RADJAWARTA > Kuota beras miskin (raskin) Kota Surabaya tahun ini mengalami penurunan. Setali tiga uang, kondisi serupa juga terjadi pada penerima kartu jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas). Pada tahun 2008, jumlah sasaran jamkesmas ditetapkan sebanyak 458.621 jiwa, sedangkan tahun 2012 lalu datanya turun menjadi 387.392 orang.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Esty Martiana Rachmi mengatakan, dari 387.392 jiwa itu, yang berstatus warga Surabaya hanya 142.662 orang. Sisanya penduduk musiman yang bertempat tinggal di Surabaya.

Menyikapi ini, Esty mencoba meluruskan. Bahwa yang menentukan siapa saja penerima jamkesmas adalah pemerintah pusat dengan didanai APBN. Penentuannya mengacu dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Dinkes Surabaya hanya dipasrahi untuk membagi kartu jaminan layanan kesehatan tersebut.

“Kami menyadari jamkesmas ini sangat rawan polemik. Apalagi kalau yang dulu dapat sekarang tidak dapat. Meskipun ada pula yang sebelumnya tidak dapat sekarang malah masuk data penerima jamkesmas. Itu semua menjadi kewenangan pusat. Yang pasti, apapun yang terjadi kartu ini harus dibagi sesuai datanya,” terang Esty kepada para wartawan di kantor Bagian Humas Pemkot Surabaya, Kamis (28/2).

Dia menjabarkan, yang sebelumnya menerima jamkesmas namun kali ini tidak masuk database jumlahnya mencapai 199.313. Setelah dirinci, dari sekian itu yang merupakan warga Surabaya hanya 26 persen, atau 53.778 jiwa. Pemkot memberikan solusi akan tetap menjamin mereka yang sebelumnya mendapat jamkesmas tapi sekarang tidak, dengan dana APBD. “Dengan catatan yang ditanggung adalah warga dengan KTP Surabaya,” imbuhnya. Soal nama, Esty menuturkan pihaknya masih memikirkan dan mematangkan konsepnya.

Sebagai informasi, kartu jamkesmas lama dinyatakan tidak berlaku lagi per 1 Maret 2013. Sementara pencetakan kartu jaminan pelayanan kesehatan baru yang digodhok pemkot butuh waktu. Sebab, pembuatan kartu perlu proses klarifikasi ke lapangan. Di sisi lain, orang sakit tidak bisa menunggu.

Menyikapi ini, Dinkes menerapkan masa transisi. Warga untuk sementara bisa memanfaatkan jamkesmas non-kuota. Syaratnya, warga mengurus surat keterangan tidak mampu (SKTM) dengan membawa kartu jamkesmas yang lama.

Jamkesmas non-kuota adalah layanan kesehatan inisiatif Pemkot Surabaya untuk mewadahi warga yang tidak tercatat BPS. Dikatakan Esty, banyak fakta di lapangan, yang sebenarnya miskin malah tidak terpantau BPS. Dari segi alokasi anggaran, tiap tahun jamkesmas non-kuota selalu mengalami peningkatan. Pada 2011, pemkot menganggarkan Rp 91 miliar Jumlahnya naik pada 2012 yakni Rp 101 miliar. Tahun ini, dana jamkesmas non-kuota meningkat drastis mencapai Rp 120 miliar.

Sementara itu, Kabag Pemerintahan Imam Siswandi menyatakan, fasilitas kesehatan yang diberikan pemkot bagi warga Surabaya memang sangat diminati. Sehingga, kemungkinan banyak yang mencoba bertindak curang demi mendapatkan pelayanan ini, meskipun yang bersangkutan bukan warga Surabaya. Salah satu modusnya, kata Imam, dengan meminjam kartu keluarga (KK) warga Surabaya. “Kebetulan pemilik KK punya anak yang seumuran dan berjenis kelamin sama dengan anak yang sedang sakit, tapi bukan warga Surabaya,” terangnya.

Untuk itu, ia menekankan pemkot tak segan menempuh langkah tegas sebab menurutnya hal itu sudah masuk ranah pidana, tergolong pemalsuan dokumen. “Kami sudah sosialisasi kepada para lurah. Ini semata untuk memastikan bahwa layanan kesehatan benar-benar diperuntukan bagi mereka yang berhak,” pungkas Imam. ***

Puaskah anda dengan Kinerja Gubernur Jatim, Soekarwo?

Lihat Hasil Polling

Loading ... Loading ...

 

Comments (0)

radjawarta,,,,new

Tags: , , , , , ,

Lahan Diserobot, Warga Lapor ke Wakil Rakyat

Posted on 19 Februari 2013 by admin

RADJAWARTA > Pemkot Surabaya disebut telah menyerobot lahan seluas 11.230 meter persegi di Jalan Randu kecamatan Kenjeran. Area lahan yang sudah didirikan gedung SDN Sidotopo Wetan 4, Puskemas Sidotopo Wetan dan masjid tersebut diaku Pemkot sebagai lahan asset Pemkot, padahal berdasarkan Buku Tanah Daftar C/Petok D kelurahan Sidotopo Wetan, tanah tersebut milik Nasrip yang sekarang diwariskan kepada Hj.Masita.

Somasi kepada Pemkot atas lahan yang terdaftar sebagai milik Nasrip berdasarkan Buku Tanah daftar C/Petok D no 507 kelurahan Sidotopo Wetan ini disampaikan kuasa hukum Hj.Masita , Yohanes Djakar,S.H kepada komisi A, Kamis(14/2).

Menurut Yohanes Djakar, Pemkot Surabaya sudah sejak tahun1995 menetapkan tanah yang dimiliki  Nasrip sejak tahun 1964, sebagai tanah ganjaran atau tanah asset desa. Padahal Nasrip telah memiliki  bukti kepemilikan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Inspeksi Agraria Jawa Tmur tertanggal 22 Oktober 1964.

Namun sampai saat ini, lanjut Yohanes, pihak Pemkot masih bersikukuh lahan yang ada di jalan Randu tersebut adalah tanah asset pemkot berdasarkan surat GS Nomor 6/U/1991 yang disebut Yohanes sebagai Surat Ukur Badan Pertanahan Nasional.

“Artinya bukti kepemilikan Pemkot sangat lemah, jauh lebih kuat milik Nasrip yang kini menjadi waris Hj.Masita,” terang Yohanes pada Komisi A.

Bahkan, lanjut Yohanes,  sebenarnya pihak Pemkot melalui Badan Pengelolaan Tanah dan Bangunan (BPTB) pada tahun 2006 juga mengakui tanah milik Nasrip berdasarkan Leter C nomor 507 seluas 11.230 meter persegi.

“Salah satunya adalah bukti bahwa berdasarkan leter C 507 disebutkan tanah tersebut berstatus GL bukannya tanah persil kas desa atau persil asset Pemkot Surabaya,” terang Yohanes.

Namun  berdasarkan konfirmasi terakhir kepada Pemkot, lanjut Yohanes, tetap saja Pemkot menyatakan tanah tersebut asset pemkot Surabaya . Atas hal ini, sebagai kuasa hkum Hj.Masita, Yohanes meminta agar Pemkot segera mengembalikan tanah tersebut setidaknya melaukanpembicaraan dengan pihak ahli waris Nasrip untuk menyelsaikan permasalahan ini.

“Kami sengaja belum memberikan tenggat waktu, namun jika tidak segera diselesaikan atau ada respon positif dari Pemkot ada kemingkinan klien kami akan menempuh jalur hukum,” tegasnya. ***g

Puaskah anda dengan Kinerja Gubernur Jatim, Soekarwo?

Lihat Hasil Polling

Loading ... Loading ...

 

Comments (0)

Pemkot Dituding Serobot Lahan Warga

Tags: , , , ,

Pemkot Dituding Serobot Lahan Warga

Posted on 16 Februari 2013 by admin

RADJAWARTA > Pemkot Surabaya disebut telah menyerobot lahan seluas 11.230 meter persegi di jalan Randu kecamatan Kenjeran.  Area lahan yang sudah didirikan gedung SDN Sidotopo Wetan 4, Puskemas Sidotopo Wetan dan masjid tersebut diaku Pemkot sebagai lahan asset Pemkot, padahal berdasarkan Buku Tanah Daftar C/Petok D kelurahan Sidotopo Wetan, tanah tersebut milik Nasrip yang sekarang diwariskan kepada Hj.Masita.

Somasi kepada Pemkot atas lahan yang terdaftar sebagai milik Nasrip berdasarkan Buku Tanah daftar C/Petok D no 507 kelurahan Sidotopo Wetan ini disampaikan kuasa hukum Hj.Masita , Yohanes Djakar,S.H kepada komisi A, Kamis (14/2).

Menurut Yohanes Djakar, Pemkot Surabaya sudah sejak tahun1995 menetapkan tanah yang dimiliki Nasrip sejak tahun 1964, sebagai tanah ganjaran atau tanah asset desa. Padahal Nasrip telah memiliki  bukti kepemilikan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Inspeksi Agraria Jawa Tmur tertanggal 22 Oktober 1964.

Namun sampai saat ini, lanjut Yohanes, pihak Pemkot masih bersikukuh lahan yang ada di jalan Randu tersebut adalah tanah asset pemkot berdasarkan surat GS Nomor 6/U/1991 yang disebut Yohanes sebagai Surat Ukur Badan Pertanahan Nasional.

“Artinya bukti kepemilikan Pemkot sangat lemah, jauh lebih kuat milik Nasrip yang kini menjadi waris Hj.Masita,” terang Yohanes pada Komisi A.

Bahkan, lanjut Yohanes,  sebenarnya pihak Pemkot melalui Badan Pengelolaan Tanah dan Bangunan (BPTB) pada tahun 2006 juga mengakui tanah milik Nasrip berdasarkan Leter C nomor 507 seluas 11.230 meter persegi.

“Salah satunya adalah bukti bahwa berdasarkan leter C 507 disebutkan tanah tersebut berstatus GL bukannya tanah persil kas desa atau persil asset Pemkot Surabaya,” terang Yohanes.

Namun  berdasarkan konfirmasi terakhir kepada Pemkot, lanjut Yohanes, tetap saja Pemkot menyatakan tanah tersebut asset pemkot Surabaya . Atas hal ini, sebagai kuasa hkum Hj.Masita, Yohanes meminta agar Pemkot segera mengembalikan tanah tersebut setidaknya melaukanpembicaraan dengan pihak ahli waris Nasrip untuk menyelsaikan permasalahan ini.

“Kami sengaja belum memberikan tenggat waktu, namun jika tidak segera diselesaikan atau ada respon positif dari Pemkot ada kemingkinan klien kami akan menempuh jalur hukum,” tegasnya. ***gt

Puaskah anda dengan Kinerja Gubernur Jatim, Soekarwo?

Lihat Hasil Polling

Loading ... Loading ...

 

Comments (0)

Manusia Super

Bergaya Megawati, Risma Jadi Bintang

Setelah digoyang habis oleh Wakil Rakyat di Gedung DPRD Surabaya Sang Walikota Tri Rismaharini kini menjadi bintang layaknya seperti seorang artis ternama. Semua suka dan semua saling mendukung. Sebelumnya para anggota dewan

Baca Selengkapnya.........

LEMBAGA BANTUAN HUKUM
RADJAWARTA


KLIK DISINI...

Hari jadi Kota Surabaya 2013
  • Radja POLLING


    • Puaskah anda dengan Kinerja Gubernur Jatim, Soekarwo?

      Lihat Hasil Polling

      Loading ... Loading ...


  • Risma, Walikota Tanpa Tanda Jabatan

    TRI RISMAHARINI, demikian nama walikota perempuan pertama di Kota Surabaya. Masa jabatan ini pertama kali dijabatnya untuk masa bakti 2010-2015 terhitung sejak 28 September 2010..

    Baca Selengkapnya.........

    Achtanaputra - Webdeveloper